Terbanyak Lihat


Terbanyak Cetak


Esei dan Opini


Wawancara dan Diskusi


Video


Maulid Nabi dan Geger Tapekong di Banyuwangi

Penulis:Hasan Basri
Publikasi:9-Agustus-2008 17:21
 

Tak seperti biasanya, hari-hari itu (minggu ketiga Maret 2008) desa Macanputih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi (Jawa Timur) berubah drastis menjadi gemerlap dan gegap-gempita. Tampak orang-orang sibuk sedemikian rupa. Di jalan-jalan utama desa terlihat ramai orang hilir-mudik dari yang berjalan kaki hingga berkendaraan. Ada yang mengantarkan makanan untuk saudaranya ke lain kampung, ada juga kerabat yang datang saling berkunjung.

Spanduk, umbul-umbul dan bendera besar-kecil berjejer melambai di sepanjang jalan. Terlihat di beberapa sudut pertigaan jalan desa berdiri aneka panggung hiburan mulai dari panggung musik dangdut, gambus, sampai seni drama rakyat. Sementara itu tidak kurang dari duapuluh titik di sudut-sudut kampung, warga sedang menyelesaikan pembuatan tapekong. Sebuah patung mirip ondel-ondel Betawi atau ogoh-ogoh Bali, yang berukuran setinggi 2 sampai 7 meter dengan aneka macam bentuk yang sepenuhnya menjadi ruang kemandirian, kreatifitas budaya, dan imajinasi keagamaan warga. Di antaranya ada yang menyerupai Ka’bah, pohon Khuldi, raja Fir’aun, Leak Bali, hantu, tuyul, sampai setan raksasa penggoda remaja. Pada hari H-nya, tapekong-tapekong ini akan diarak beramai-ramai dengan iringan berbagai musik tradisional yang dikenal dengan arak-arakan (karnaval) endhog-endhogan sebagai bagian dari rangkaian acara peringatan Maulid Nabi.

Selain itu, setiap keluarga biasanya membuat kembang endhog (bunga telur) sebanyak anggotanya atau lebih yang terbuat dari telur rebus yang ditusuk dengan bilah bambu kering sepanjang dua hasta yang ujungnya dihiasi bunga kertas. Menurut warga, kembang telur ini melambangkan zaman jahiliyah, zaman sebelum Nabi Mihammad lahir (yang ditunjukkan dengan bilah bambu kering). Kelahiran Nabi Muhammad (yang disimbolisasikan dengan telur) menjadi titik penting perubahan kehidupan yang menjadi lebih baik (dilambangkan dengan bunga kertas). Belakangan hiasan kembang endhog ini tidak lagi hanya berupa bunga kertas, tapi sepenuhnya tergantung pada kebebasan dan kreatifitas masyarakat. Bisa berbentuk barong, ular naga, kapal terbang, dan lain-lain.

Dan benar, tepat pada subuh 12 Rabiul Awal semua warga membawa kembang endhog yang diletakkan di atas ancak (pelepah daun pisang dibentuk segi empat untuk wadah nasi dan jajanan) menuju masjid. Sampai di masjid, kembang endhog kemudian ditancap-tancapkan di batang pohon pisang yang telah dihias indah dan diletakkan berjajar di serambi masjid. Satu batang pohon pisang sedapat mungkin berisi kembang endhog dalam jumlah ganjil; 27, 33, atau 99 yang memiliki makna-makna tertentu dalam tradisi keislaman. Selain di batang pohon pisang, kembang endhog juga ada yang diletakkan di jodhang, yaitu batang pohon pisang yang dibentuk sedemikan rupa hingga berbentuk gunungan atau menyerupai piramid.

Semua warga telah berkumpul di masjid. Beramai-ramai mereka lalu mengusung batang-batang pohon pisang yang telah berhias itu keliling kampung. Suasana sangat ramai karena bukan saja setiap warga terlibat dalam arak-arakan itu, melainkan semua musik tradisional yang dimiliki mengiringinya. Setelah semua jalan kampung dilalui, arak-arakan kembali menuju masjid. Seluruh batang pohon pisang itu diletakkan lagi berjajar di serambi masjid, kemudian semua warga masuk ke masjid melaksanakan pembacaan kitab Barzanji yang biasa disebut dengan serakalan. Serakalan berasal dari kata “asroqol”, yaitu salah satu kata pembuka bait syair dalam kitab Barzanji. Serakalan berlangsung secara kompetitif-bersautan bak beradu pantun. Warga yang hadir berkelompok menurut RT atau mushalla, apabila satu kelompok melakukan pembacaan, kelompok yang lain mendengarkan sambil bersiap-siap mengambil alih melanjutkan. Tak jarang terjadi saling lempar (menggunakan kue) dan saling ejek satu sama lain. Di puncak acara, yaitu saat melantunkan shalawat nabi sambil berdiri, ada petugas berkeliling memberikan minuman tradisional yang dinamakan bir (air dicampur asam dan gula jawa) untuk diminum agar kualitas suara tetap terjaga dan toyo arum ( air ditabur irisan daun pandan dan aneka rupa bunga) untuk diusapkan di tenggorokan agar terjadi cooling down. Usai serakalan, warga lalu pulang sambil berbagi (kadang berebut) kembang endhog.

Sumber-sumber lisan yang terwariskan hingga sekarang menyebut bahwa pembuatan tapekong, disebut juga ogo-ogo, merupakan kreasi baru yang diciptakan kira-kira setelah tahun 50-an dengan maksud untuk meramaikan peringatan hari lahir Nabi Muhammad. Sebelum tahun itu, arak-arakan hanya diramaikan oleh kembang endhog yang kemudian terbagi secara berebut.

Setiap bulan Maulid atau bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah, ritual memeringati hari kelahiran Nabi Muhammad memang merupakan gejala umum di kalangan muslim Indonesia yang biasanya diselengarakan dalam berbagai bentuk dan performance, mulai dari pengajian (ceramah agama), ber-barjanzi, kenduri sekedarnya, sekatenan, sampai perlombaan dan pesta pora. Tetapi, peringatan maulid Nabi seperti yang terjadi di Macanputih diatas tampaknya hanya terjumpai di kalangan komunitas Using Banyuwangi yang seluruhnya muslim. Komunitas yang mengklaim diri sebagai penduduk awal Banyuwangi (pewaris Menajinggo) dan berbeda dari Jawa ini umumnya sangat antusiasme menyelenggarakan endhog-endhogan sebagai simbolisasi “mengingat” sejarah kelahiran Nabi Muhammad. Bahkan, di beberapa desa pusat konsentrasi pemukiman Using, seperti dusun Kejoyo dan desa Aliyan, di samping di Macanputih, peringatan maulid Nabi jauh lebih meriah dan ramai ketimbang hari-hari besar Islam yang lain termasuk hari raya Idul Fithri yang di tempat lain biasanya lebih meriah.

Tapekong sebenarnya hanyalah bagian saja dari tradisi endhog-endhogan. Kata endhog yang berarti telur, oleh orang Using, digunakan sebagai simbol kelahiran sang panutan. Di kalangan komunitas Using Banyuwangi, ritual endhog-endhogan sudah lama diselenggarakan dan telah menjadi tradisi; tak ada data tertulis maupun cerita lisan yang menjelaskan kapan tradisi ini dimulai. Jauh sebelum kemerdekaan, begitu tetua komnitas Using mewartakan, ritual seperti itu telah meluas di selenggarakan. Biasanya warga menyiapkan aneka jenis makanan; kue basah, kue kering, menyembelih ayam, menthok sampai sapi-kerbau. Bahkan di beberapa tempat seperti Desa Aliyan, Desa Bolot, dan Desa Kedawung menjadi prestise tersendiri apabila sembelihannya lebih dari lima ekor ayam, kambing, atau sapi-kerbau; mereka akan merasa malu jika sesembilahannya hanya tiga ekor ayam atau dibawahnya dan untuk itu berusaha menghindar dari mencuci di sungai karena khawatir terlihat oleh tetangganya.

Pariwisata yang memang selalu tertarik pada hal-hal yang unik dan eksotis telah menjamah ritual endhog-endhogan. Dalam tourism map Banyuwangi tercatat bahwa ritual ini termasuk salah satu agenda tahunan Dinas Pariwisata daerah itu, mendampingi ritual-ritual lain seperti kebo-keboan di desa Alas Malang, petik laut di Muncar, dan seblang di desa Olesari dan Bakungan. Sejak lebih lima tahun lalu, endhog-endhogan di dusun Kejoyo telah secara resmi terdaftar dalam kalender Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi yang selain memperoleh dukungan dana, polesan-polesan estetik dan etik, juga prioritas promosi kepada dunia luar. Seperti yang terlihat dalam ritual endhog-endhogan tahun ini, seluruh perhatian pemerintah daerah yang mengerahkan semua media masaa di Banyuwangi tercurah kepada Kejoyo, sehingga gegap-gempita pemberitaan hari-hari sesudahnya mengerucut pada endhog-endhogan di dusun itu. Sementara peristiwa yang sama di Macanputih sama sekali tidak memperoleh tolehan media massa, meski sebenarnya terkesan lebih kreatif dan lebih diapresiasi oleh kebayakan warga Using.

Kreativitas orang Using yang dinamis dalam memperingati maulid Nabi seperti itu tak pelak menuai respons dari kalangan muslim puritan dan fundamentalis. Bermula sejak kira-kira dua tahun lalu, sekitar pertengahan Mei 2006, karnaval dengan mengerahkan tapekong ini mulai dipermasalahkan. Kisah awal bermula dari sebuah Compact Disk (CD) rekaman tapekongan Macanputih yang dipertontonkan dalam suatu acara yang digelar Forum Silaturahmi Alim Ulama (FSAU) di Pondok Pesantren Robithotul Islam di Dusun Jenisari, Desa Genteng. Forum para kiai itu rupanya terkejut oleh gambar patung perempuan yang hanya mengenakan selembar BH dan cawat tipis menutup kemaluan, yang diarak berama-ramai oleh para pemuda bertelanjang dada dalam peringatan Maulid Nabi. Kontan saja, para kiai ini merasa gerah menyaksikan gambar yang dinilai “tak senonoh” itu.

Menyadari beberapa keping Compact Disk itu sudah tersebar luas, panitia Maulid Desa Macanputih segera melapor ke Polres Banyuwangi. Mereka menilai bahwa rekaman dalam CD sama sekali tidak mewakili suasana perayaan secara keseluruhan, dan penyebaran CD tersebut merupakan upaya sengaja untuk memprovokasi para kiai dan umat Islam demi kepentingan politik. Kekhawatiran ini terbukti setelah beberapa beberapa hari berselang, 10 orang anggota FPI mendatangi Polres Banyuwangi dan melaporkan bahwa Panitia Maulid telah menista agama dan melecehkan ajaran Islam. Bahkan Ketua FPI Banyuwangi, Agus Iskandar, mengklaim laporannya didasarkan pada investigasi lapangan dalam peristiwa tersebut. “Atraksi itu (patung perempuan yang ditusuk bambu) sudah masuk kategori pornoaksi dan pornografi,” demikian kata Agus.

Atas dasar itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi turun tangan melakukan penertiban dan pembinaan tradisi perayaan endhog-endhogan, yang menurut mereka agar tidak menimbulkan kerawanan sosial, suatu kekhawatiran yang sepenuhnya imajinatif. Ketua Forum Pemuda Penyelamat Nahdlatul Ulama (FPPNU) Banyuwangi, Iskandar Dzulkarnaen, menuding bahwa VCD sengaja dibuat dan diputar oleh pihak-pihak tertentu dengan maksud tertentu pula. Dzulkarnaen percaya bahwa semua dimaksudkan untuk memprovokasi para kiai dan warga nahdliyin. Ia meminta agar para kiai dan umat Islam tidak terjebak dalam fitnah tersebut.

Lepas dari polemik dan pertengkaran soal endhog-endhogan dan tapekongan yang melibatkan berbagai pihak di luar tradisi itu, warga Macanputih yang seluruhnya pendukung dan pemilik tradisi itu ternyata tak bergeming, gigih memertahankan endhog-endhogan dan tapekongan sebagi ruang kreativitas dan artikulasi keagamaan mereka.*


Penulis adalah Sekretaris Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Guru, Pemerhati sejarah dan seni budaya Banyuwangi, mengelola Majalah Seblang (berbahasa Using).

Tulisan Lain:

    TANKINAYA INSTITUTE
    Jalan Madrasah No. 66 Kukusan, Beji, Depok 16425 Indonesia
    Telp.: 021-7867145, Fax.: 021-7867145, Email: office@tankinaya.org

    Hak Cipta © 2009 Tankinaya Institute