| Penulis | : | Ahmad Zainul Hamdi |
| Publikasi | : | 9-Agustus-2008 18:45 |
Malam Jum’at, seperti biasanya, warga Desa Klepu menggelar tahlilan. Hampir semua orang memaklumi itu sebagai ritual malam Jum’atan rutin yang nyaris tak pernah alpa dilakukan. Kebetulan saja malam itu, 21 April 2008 tak hanya mereka yang punya ritual agama, tak jauh dari Lingkungan itu (demikian biasanya orang Klepu menyebut satu kelompok pemukiman kecil) pasangan muda penganut Katolik dari Lingkungan lain menggelar acara yang berlainan, slametan tingkeban. Sebenarnya waktunya tak bersamaan benar, lantaran prosesi slametan itu sengaja dibuka agak malam menunggu hadirnya beberapa warga muslim sekitar atau dari Lingkungan lain yang turut menerima undangan.
Klepu sendiri, yang letaknya sekitar satu setengah kilometer dari pusat kota Kecamatan Sooko dan berjarak kira-kira duapuluh tujuh kilometer dari ibukota Kabupaten Ponorogo, memang desa yang warganya amat beragam. Penduduknya berjumlah 2721 jiwa yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Menurut cerita dari mulut ke mulut, konon orang-orang Klepu sebelum huru-hara 1965 adalah masyarakat yang homogen, pemeluk Muslim kejawen. Mereka biasa menyebutnya secara sederhana sebagai Islam Natbiti, yang nampak Islam saat sunat-rabi-menikah-mati. Ada memang komunitas santri yang jumlahnya sangat kecil yang hidup di sekitar masjid tua di Lingkungan Ledok, Ngapak, yang dipimpin oleh Kiai Kurdi yang dulu dikenal simpatisan fanatik Partai NU. Tetapi keberadaan mereka terlalu kecil bila dibandingkan Muslim kejawen (abangan) yang umumnya dulu pendukung fanatik partai komunis (PKI) dan nasionalis (PNI). Berdasar pembelahan politik semacam itu wajar rasanya bila Klepu tidak memiliki sejarah permusuhan antara santri dan abangan, karena persaingan politik di masa lalu justeru terjadi antarsesama kalangan abangan.
Usai huru hara politik tahun 1965, situasi ini berubah cepat. Orang-orang Klepu mulai banyak yang pergi ke masjid belajar sembahyang. Mungkin karena ketakutan dicap PKI atau ada perintah agar semua orang harus menganut Islam yang “benar”, yang bagaimanapun juga bagi orang-orang Kejawen, seperti Pak Lurah Soemakoen, tuntutan untuk ber-Islam dengan standar santri membuat orang-orang Klepu sangat gundah. Berubah menjadi santri jelas terlihat sebagai tipuan yang memalukan karena mereka memang tidak tahu dan tidak bisa beribadah secara “benar”. Sementara menjadi abangan berarti mudah dicap komunis, sebuah resiko yang sangat berbahaya. Sementara mengaku orang PNI juga tak memberikan jaminan keselamatan apapun.
Situasi politik yang serba mencekam ini membuat Soemakoen harus segera membuat keputusan. Dan setelah berkonsultasi dengan Giyoto, keponakannya yang telah menjadi seorang koster di gereja Katolik Madiun, Soemakoen akhirnya memutuskan masuk Katolik, yang rupanya diikuti oleh nyaris semua perangkat desa dan sebagian besar warganya. Hal ini tidak semata-mata karena Soemakoen seorang kepala desa yang sangat berwibawa, tapi juga karena kesan manis orang-orang Klepu terhadap orang Katolik Madiun ketika mereka diundang oleh gereja untuk bermain reyog pada acara peringatan Hari Kelahiran Pancasila tahun 1964.
Sejak saat itulah konfigurasi sosial masyarakat Klepu mengalami babak baru. Separuh lebih adalah penganut Katolik. Sisanya pemeluk Islam yang sebagian besar tetap kejawen; mereka adalah komunitas natbiti yang dulu beramai-ramai mengunjungi masjid demi menghindari tekanan politik pasca 65 dan kembali pada identitas semula setelah situasi politik mereda. Rupanya, betapapun pergeseran itu terjadi, ada satu pemandangan yang tak berubah dari warga Klepu yakni kebersamaan. Mereka tetap bergotong royong membangun rumah ibadah tanpa memandang bentuk agamanya, merayakan Idul Fitri secara bersama pula, serta hidup dalam suka dan duka bersama.
Nampaknya kebersamaan ini pula yang membuat “orang-orang pendatang” (demikian warga Klepu menyebutnya) dari DDII, Dewan Dakwah Islam Indonesia, sebuah organisasi puritan Islam kota, mental gara-gara misi “pemurnian Islam” yang dibawanya dipandang oleh para warga sebagai sikap yang tak memahami sejarah desa dan hanya mengajarkan buku agama tanpa sesrawungan antarsesama. Baru kemudian pada akhir 1980-an Muhammadiyah bisa masuk Klepu dan relatif sukses membentuk Islam Klepu yang berpusat di Lingkungan Ledok, dusun Ngapak, yang memang sejak semula menjadi basis kecil kelompok santri tradisional. Dan lalu baru kira-kira dua tahun kemudian Muhammadiyah diterima secara terbuka oleh warga Lingkungan Kuniran Atas kendati agak aneh memang karena kelompok modernis ini mendakwahkan corak Islam yang relatif lebih ketat, seperti antislametan dan antitahlilan.
Mungkin ada keraguan masihkah lukisan kebersamaan itu bertahan, terutama dalam benak saya sendiri yang belum lama lalu hadir pada acara slametan di rumah penganut Katolik warga Klepu.
Setiba saya di rumah tempat dilaksanakannya slametan tingkeban itu terlihat para tamu sudah duduk melingkar di sehelai tikar lebar. Beberapa orang duduk-duduk di teras. Di depannya tersedia beberapa piring berisi tembakau, cengkeh, kertas rokok, dan sebungkus rokok. Setelah berbasa-basi sebentar, saya pun memasuki rumah dan segera mengambil tempat duduk. Tepat di sebelah kiri saya Pak Lurah, Modin Sukidi, dan Mbah Mukayat (80 tahun), seorang muslim kejawen yang dikenal penduduk sekitar sebagai orang pinter/berjonggo yang akan memimpin ritual tingkeban. Di sebelah kanan saya berjejer orang-orang tua yang diantaranya Pak Sikin (55 tahun), pastur Katolik yang kerap dimintai doa para warga.
Tamu yang hadir rupanya cukup banyak, kira-kira mencapai 30-an orang yang berbaur cair bersama di ruang tamu yang dihiasi oleh gambar-gambar pemandangan alam dan satu foto berukuran tanggung menyerupai wajah Paus Paulus II yang menempel di dinding menghadap pintu. Sambil menunggu acara dimulai, tamu-tamu ini mengobrol tentang apa saja sambil menikmati tayangan ketoprak yang diputar dari kepingan Compact Disk (CD). Sayang sekali, tak jelas benar lakon apa yang dimainkan ketoprak itu lantaran posisi duduk saya memunggungi layar kaca, tapi sesekali terdengar nama Kyai Ageng Besari disebut-sebut yang mengingatkan pada seorang tokoh terkenal masa lalu, kiai Mohamad Besari (salah satu cucunya bernama kiai Kasan Besari) yang namanya identik dengan desa tempat ia bermukim, Tegalsari, Jetis, Ponorogo (13 kilometer arah selatan dari kota Ponorogo). Peneliti Prancis, Claude GUILLOT menyebut kiai Mohammad Besari adalah tokoh yang mempunyai keterkaitan dengan kekuasaan Susuhunan Mataram di Kartasura (Archipel, no. 30: hal. 139-143).
Tiba-tiba, Pak Sikin, sang pastor, meminta tayangan dimatikan lantaran sembahyangan doa hendak dimulai. Sejurus kemudian para tamu terlihat sangat khusuk, dan beberapa lainnya mengikuti dengan sikap menunduk. Kira-kira tak lebih dari 30 menit, doa-doa pun usai, dan suasana kembali ramai menikmati tayangan ketoprak yang kembali diputar. Tak seberapa lama Mbah Mukayat, sang sesepuh desa, berdiri dan beringsut menuju samping rumah mempersiapkan upacara siraman untuk pasangan muda yang sedang ditingkebi. Sekilas sulit disadari bahwa apa yang sedang terjadi adalah sebuah transfer kewenangan dari seorang imam Katolik ke berjangga Jawa yang Islam. Padahal di momen inilah sesungguhnya ritual tingkeban dimulai dan kewenangan sepenuhnya berada di tangan Mbah Mukayat.
Di samping rumah itu, rupanya telah tertata dua buah kursi kayu yang di depannya satu bak berisi air. Di samping bak ada sebuah kendil tanah yang berisi bunga rupa-rupa. Mbah Mukayat komat-kamit membaca mantra sambil menghadap anglo yang tak henti-hentinya mengepulkan asap kemenyan. Di sebelah lain, sebuah kelapa muda yang sudah tergurat gambar seorang tokoh pewayangan nampak tergeletak di atas tumpukan batu bata di samping rumah. Sementara di teras ruang dapur yang terletak di samping rumah (bergandengan dengan bangunan induk) terhampar sebuah tikar kecil yang di atasnya satu buah talam tertata rapi berisi sejumlah makanan tertentu, setumpuk pakaian laki-laki dan perempuan lengkap dengan sisir dan bedak, serta gulungan daun pisang muda. Seusai merapal mantra, bunga-bunga di kendil tanah itu lalu dicampur ke dalam air bak. Dan pasangan muda yang sudah duduk dikursi kayu itu lalu disirami bergantian dengan air bunga yang telah bersenyawa dengan mantra Mbah Mukayat. Tak lama acara siraman pun usai
Sementara itu, orang-orang di ruang tamu yang masih gayeng menikmati tayangan cerita ketoprak dan ngobrol kanan-kiri itu nampak tak sabar menunggu asahan, ragam makanan hidangan khas dalam slametan. Bisik-bisik orang, katanya hidangan asahan biasanya paling lengkap dalam acara-acara slametan tingkeban. Benar juga, tak lama kemudian di atas tikar tengah ruang tamu itu penuh dengan makanan: mule, metri, rujak, bubur merah, bubur putih, apem, sego golong, dan procot. Bahkan Mbah Mukayat sendiri yang memastikan tak ada satu pun jenis hidangan tercecer, dan senyum lebar pun merekah ketika melihat kesigapan tuan rumah menyiapkan beberapa unsur penting dalam slametan, seperti bubur merah dan putih. Tuan rumah pun segera meminta Mbah Mukayat memulai doa slametan.
Mesin pemutar Compact Disk (CD) yang sejak tadi memutar ketoprak segera dimatikan kembali. Mbah Mukayat yang didaulat sebagai pemimpin doa, mengawalinya dengan menegaskan maksud tuan rumah melaksanakan slametan tingkeban dan dengan cekatan lalu mengupas makna simbolik dari aneka jenis asahan yang disuguhkan. Ya, hampir semua nama hidangan tingkeban mempunyai makna yang sarat dengan doa dan harapan-harapan bagi si bayi yang ditengkebi, dan semua hadirin diminta menjadi saksi pelaksanaan slametan itu. Tak lama kemudian Mbah Mukayat pun melafalkan doa-doa, dan semua orang menengadahkan tangan, bersahutan mengamininya.
“Allohumma solli wa salim olo sayyidino wal-awwalina wal akirin wa salim wa ala ali sokabati rasululah ajmain. Allohuma qiblata li iman iman slamet slameto kang slamet slameto kang dipunslameti aweh kajat klewan niat lan sarengat. …Alluhuma mulyo jatio mukamad. Slamet jatio mukamad Nurcahyo jatio mukamad. Biramatiko ya arkamarrokimin. Allohuma solli wa salim olo sayidino mukamad.”
Tak lama pun doa selesai. Semua orang menyantap hidangan di depannya. Sebagian lain asyik meneruskan obrolan. Sebagian lainnya nampak sedang mempersiapkan kartu lintrik, dan mungkin mau menikmati permainan hingga menjelang pagi. Tak lama kemudian saya pun beringsut berpamitan.
Di tengah perjalanan pulang itu, tiba-tiba salah seorang pimpinan muda Muhammadiyah di Lingkungan Kuniran Atas dengan setengah canda berujar: Jangan heran, orang-orang Klepu itu ‘agamanya’ Muhamadinuka. “Perpaduan antara Muhammadiyah, NU dan Katolik,” katanya.*
TANKINAYA INSTITUTE
Jalan Madrasah No. 66 Kukusan, Beji, Depok 16425 Indonesia
Telp.: 021-7867145, Fax.: 021-7867145, Email: office@tankinaya.org
Hak Cipta © 2009 Tankinaya Institute