| Penulis | : | Miftahus Surur |
| Publikasi | : | 19-Juli-2009 10:59 |
“Tidak benar kalau dibilang bahwa perempuan Using itu gampangan dan suka kawin cerai. Perempuan Using itu kuat dan suka bekerja keras,” demikian ungkapan Nanik, salah satu peserta workshop Perempuan dan Budaya Lokal yang dilaksanakan oleh Tankinaya, 4 Juli 2009 yang lalu di Banyuwangi. Nanik kerap mendengar ungkapan bahwa perempuan Using itu gampangan untuk dirayu, gampangan nikah, gampangan cerai, gampangan menggoda laki-laki, dan sebagainya. Nanik menampik bisikan-bisikan luar seperti itu karena menurutnya perempuan Using adalah pewaris tradisi kepahlawanan Sayuwiwit, salah satu Ratu Blambangan (sebutan lain Banyuwangi) yang kesohor kearifan dan kekuatannya.
Using sendiri merujuk pada masyarakat “asli” Banyuwangi dimana sebagian besar masyarakatnya mengidentifikasi diri sebagai bukan Jawa dan bukan Bali. Bahasa yang dipergunakan pun tidak serta merta bisa diselaraskan dengan bahasa Jawa pada umumnya, meskipun terdapat banyak kata dan ujaran yang mirip dan bahkan juga sama dengan bahasa Jawa. Semakin menarik ketika realitas empirik menunjukkan bahwa di antara masyarakat Using Banyuwangi sendiri memiliki keragaman ujaran. Perbedaan dan juga persamaan dari segi bahasa itulah yang dalam beberapa tahun belakangan ini menimbulkan polemik di kalangan elit Banyuwangi untuk membuat suatu pakem, standar, atau aturan baku mengenai bahasa Using yang tepat, suatu upaya yang tentu saja sulit mengingat masyarakat Using sendiri hampir tidak peduli dengan keinginan para elit tersebut.
Menyorot perempuan Using tentu saja menjadi daya tarik tersendiri. Identifikasi beberapa pihak terhadap mereka sebagai perempuan yang gampangan tentu saja membutuhkan kecermatan telaah agar tidak mudah masuk dalam suatu konstruksi kolonial yang memang sangat jitu dalam melukis, menggambar, dan memotret suatu kehidupan masyarakat tertentu tanpa melihat mereka sebagai subjek (agen) sekaligus sebagai objek dari perjalanan sejarah kehidupan mereka sendiri.
Merebaknya perempuan Using yang menggeluti profesi sebagai penari seni tradisi seperti gandrung dan janger menambah stereotip itu pada stadium yang lebih tinggi lagi, terutama jika kenyataan tentang menari di atas panggung itu dikategori sebagai pentas pemuasan hasrat kelelakian yang menundukkan perempuan. Juga, ketika para perempuan yang lain sangat gemar untuk mengiringi laki-laki bekerja di sawah sebagai wujud dari konteks kultur agraris mereka, juga tidak sedikit yang membenamkan para perempuan Using sebagai pemangku beban berat kehidupan rumah tangga. Dalam kubang konstruksi seperti itulah perempuan Using terjerembab dalam arus stereotip yang tidak memungkinkan mereka untuk menunjukkan diri sebagai subjek yang kreatif dalam melakukan transformasi diri di tengah gempuran kehidupan yang semakin rumit.
Gandrung dan janger tentu hanyalah beberapa dari sekian deret ruang ekspresi dan artikulasi kebudayaan lokal Using. Terdapat ranah budaya lain yang juga tidak kalah penting dalam melihat masyarakat Using, seperti seblang, kebo-keboan, barong, kuntulan, angklung, ndog-ndogan, dan banyak lagi. Kesemua itu menempatkan perempuan Using pada posisi yang sangat penting dalam cakrawala kebudayaan lokal mereka sebagai simbol keberadaan masyarakat dan kebudayaan Using secara keseluruhan. Di dalam ranah budaya seperti itu, perempuan tidak bisa menolak atau menampik, terutama ketika mereka harus tampil di hadapan publik untuk memenuhi tuntutan budaya mereka. Karena penampikan dan penolakan perempuan akan mengakibatkan kegoncangan tatanan budaya yang mereka praktikkan selama ini.
Stereotip yang disematkan kepada perempuan Using sudah tentu tidak bijak karena seolah-olah melihat perempuan Using dalam libatan satu identitas dan tindakan yang tunggal. Dalam realitas yang sangat empirik, para perempuan Using sendiri sangatlah plural. Pemaknaan mereka terhadap berbagai bentuk ritual dan kesenian tradisi sangatlah beragam. Bahkan kini, tidak sedikit dari para perempuan seni yang secara kreatif memanfaatkan ruang industri modern sebagai lahan untuk penuangan ekspresi sekaligus mengais keuntungan materi.
Apa yang bisa dipetik dari pertemuan sehari di pendopo Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi itu adalah mencoba mengarifi setiap upaya para perempuan Using untuk mengartikulasi diri di tengah-tengah percepatan arus perubahan sekaligus mencermati berbagai implikasinya bagi kehidupan mereka. Beberapa keluhan dari para perempuan sendiri mengenai munculnya fakta dan kasus perdagangan perempuan, terdapatnya beberapa perempuan yang mengidap virus HIV tidak serta merta dijadikan dasar bahwa mereka patut disebut sebagai perempuan gampangan. Banyak faktor lain yang perlu dicermati, seperti persoalan kemiskinan, banyaknya laki-laki yang justru membawa penyakit dari luar, dan kebijakan politik anggaran yang kurang berpihak dan belum memberikan porsi yang memadai bagi peningkatan potensi perempuan lokal. Semua itu memerlukan perhatian bersama.
TANKINAYA INSTITUTE
Jalan Madrasah No. 66 Kukusan, Beji, Depok 16425 Indonesia
Telp.: 021-7867145, Fax.: 021-7867145, Email: office@tankinaya.org
Hak Cipta © 2009 Tankinaya Institute