Terbanyak Lihat


Terbanyak Cetak


Berita dan Feature


Wawancara dan Diskusi


Video


Politik Islamisasi ala PKS

Penulis:Syamsurijal Adhan
Publikasi:21-Oktober-2008 18:00
 

Pertunjukan dua seni berbeda yang dikemas dalam satu paket pergelaran dalam rangka penutupan Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera di Hotel Clarion Makasar malam itu, 21 Juli 2008, menarik disimak. Pentas La Galigo yang menyajikan kisah pertemuan Betara Guru dengan Wi Nyili Timo sebagai cikal bakal kelahiran Sawerigading mengawali pertunjukan malam itu. Narasi Puang Matoa Saidi (pemangku Bissu Pangkep) dalam bahasa Bugis kuno yang puitis membuat La Galigo malam itu benar-benar membius ratusan penonton yang hadir. Sementara pertunjukan kedua adalah pentas musik nasyid yang didukung sejumlah nasyidah berjilbab dan nasyidin berkopiah mendendangkan lagu-lagu Arab yang biasa diklaim Islami.

Meski paket kemasan dua pertunjukan malam itu kurang sinkron karena kedua seni yang disajikan berbicara tentang sesuatu yang berbeda, tetapi dari segi tertentu mengesankan seolah sebagai artikulasi semangat pluralisme. Lebih-lebih ketika ternyata sang penyelenggara adalah sebuah partai turunan dari ”ideologi” Ikhwanul Muslimin yang terkenal sangat radikal-puritan. Dengan mengawinkan La Galigo yang Bugis kuno dan nasyid yang Arabis dalam satu paket pertunjukan seolah partai itu mengakomodasi tradisi lokal sekaligus menunjukkan keterpaduannya dengan Islam yang universal. Sebuah kesan yang sebenarnya telah muncul beberapa hari sebelumnya ketika membaca bentangan spanduk di berbagai sudut kota Makasar ”Saksikan pentas La Galigo di Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera”.

Tetapi, tiba-tiba kesan adanya semangat pluralisme itu pun segera sirna ketika sang protokol pertunjukan menegaskan bahwa: ”pertunjukan yang pertama (La Galigo) adalah masa lalu kita di sulsel, tanpa melupakan sejarah dan kebudayaan kita, harus kita akui bahwa pertunjukan kedua adalah masa kini kita, masa yang telah dicerahkan oleh cahaya Islam”. Meski telah menduga sebelumnya, beberapa teman bukan anggota PKS yang hadir terkejut dan sepertinya kecewa bahwa pementasan La Galigo dalam acara  malam itu hanyalah untuk melukiskan perjalanan proses Islamisasi di Sulawesi Selatan yang diklaim mencerahkan dan menyelamatkan. Tampak bagi PKS, La Galigo dan pewarisnya yang masih menjaga, para Bissu adalah masa lalu yang gelap (al-dlulumat)  dan nasyid yang Arabis dan para nasyidah-nasyidin yang berjilbab dan berkopiah adalah masa kini yang terang benderang (al-nur).

La Galigo dan para Bissu (calabai atau wanita Adam) memang masa lalu dan bagian sangat penting dari kehidupan di Sulawesi Selatan; keduanya lahir dan berkembang jauh sebelum Islam [di]hadir[kan] pertama kali oleh Datuk ri Bandang, ri Patimang, dan ri Tiro masa kejayaan Goa-Tallo dan Luwu awal abad ke-17. Islamisasi yang sangat panjang derap yang semakin menggelombang terutama di masa Sultan Hasanudin dan DI/TII Kahar Muzakar mengharuskan La Galigo – juga Pasang ri Kajang – dan komuntas Bissu mengalami transformasi dalam konteks keislaman. Puang Matoa Saidi mengatakan: Sellenna ugie taniai sellang arab tapi selleng ugie mitto (Islamnya orang Bugis bukanlah Islam Arab, tapi Islam yang khas Bugis). Meski tidak berbahasa Arab dan tidak pula bercorak kearaban, dapat dipastikan tidak ada seorang Bissu pun yang menganut agama selain Islam; Saidi sendiri dalam berbagai kesempatan acapkali mengutip dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an untuk menjelaskan kebudayaannya. Demikian pula La Galigo seperti yang ditampilkan saat itu telah mengalami reinterpretasi dan menjadi artikulasi Bugis kini yang muslim, bukan Bugis masa lalu yang belum ‘tersinari’.

Bagi para Bissu dan kebanyakan warga muslim di negeri ini, Islam atau keislaman adalah kehidupan yang terbangun melalui proses interaksi dinamis dimana berbagai kemungkinan terjadi dan berbagai hal terkait. Dengan percaya bahwa seseorang atau kelompok sosial tertentu berperan sebagai subjek, interaksi dinamis tersebut selalu mengandaikan interpretasi-reinterpretasi, negosiasi, adaptasi, bahkan resistensi yang terbingkai dalam konteks lingkungan sosial dan kultural tertentu. Dalam bahasa yang lebih populer, kitab kehidupan (tradisi lokal) bagi mayoritas muslim di negeri ini merupakan rujukan sama penting dengan kitab tekstual yang dihadirkan. Oleh karena itu, wajar jika corak dan karakter keislaman yang dihasilkan interaksi tadi menjadi khas dan spesifik, sebuah kenyataan yang membuktikan bahwa Islam dan keislaman dimana pun selalu plural, tidak pernah tunggal.

Hasil-hasil penelitian etnografi menegaskan hal itu dengan sempurna. Para antropolog senior seperti C. Geertz (1983), Hefner (1999 dan 1985), Mulder (1999), Woodward (1999), dan Beatty (2001) menyampaikan hal yang sama bahwa yang ada dalam kehidupan komunitas muslim adalah perpaduan antara apa yang disebut agama dan tradisi setempat. Mereka tidak melihat apa yang disebut ‘yang asli’, yang otentik, dan yang orsinal dalam kehidupan beragama di negeri ini. Bahkan Woodward menegaskan tidak mungkin mengkontraskan Islam dan tradisi setempat; keduanya sangat compatible, saling melengkapi dan jika pun ada pertentangan hanyalah bersifat permukaan.

Kenyataan faktual tersebut mengantarkan kesimpulan PKS tentang pertunjukan malam itu sama sekali tidak berdasar, tidak realistis, dan merupakan kategorisasi yang tidak teruji dalam hamparan realitas kekayaan etnografis keislaman Indonesia, bahkan terkesan simplistis dan semena-mena. Identifikasi dan kategorisasi La Galigo yang disajikan para Bissu malam itu sebagai masa lalu yang belum terislamisasi sama sekali bukan representasi kemusliman di tanah Bugis dan hanya menunjukkan politik Islamisasi yang tidak disertai hikmah wal mau’idhatin hasanah.


Syamsurijal Adhan, kini adalah Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Kesenian Makassar dan Anggota Dewan Redaksi tankinaya.org (Ruang Diskusi dan Informasi Kebudayaan).

TANKINAYA INSTITUTE
Jalan Madrasah No. 66 Kukusan, Beji, Depok 16425 Indonesia
Telp.: 021-7867145, Fax.: 021-7867145, Email: office@tankinaya.org

Hak Cipta © 2009 Tankinaya Institute