Terbanyak Lihat


Terbanyak Cetak


Berita dan Feature


Esei dan Opini


Wawancara dan Diskusi


Video



 

TANKINAYA INSTITUTE adalah organisasi independen dan nonprofit, bertujuan mengembangkan kebudayaan sebagai gerak dinamis kehidupan personal maupun sosial yang lebih adil dan humanistis.

Didirikan pada Januari 2008, TANKINAYA berawal dari kepedulian dan keprihatinan sejumlah peneliti dan aktivis atas kecenderungan politik kebudayaan yang kian kompleks dan problematik. Alasannya, selain interaksi individu dan komunitas makin sulit dibatasi sekat geografi dan kultural, kehidupan sosial juga kian hanyut dalam pergumulan berbagai kekuatan lokal, regional, dan global yang mengerucut pada menguatnya kekuatan-kekuatan tertentu dalam berbagai bentuk: hegemoni, diskriminasi, subordinasi, bahkan represi.

Lebih rumit lagi, kekuatan-kekuatan itu ternyata tidak bisa diletakkan secara tetap dalam petak-petak kategori sosial maupun kultural yang selama ini dikenal. Pasalnya, di samping kategori-kategori itu lebih merupakan konstruksi yang retak, kekuatan-kekuatan itu juga secara permanen mengandung instabilitas di dalam dirinya. Dengan demikian, sangat mungkin terjadi kekuatan-kekuatan itu menempel dalam persilangan kategori dan terus-menerus bergeser, bahkan saat-saat tertentu menjadi inheren di dalam kategori itu sendiri.

Selain kompleksitas semacam itu, politik kebudayaan sebagai pertarungan antar kekuatan tampak pula diwarnai oleh semakin menguatnya klaim kebenaran, rasionalitas prosedural, dan puritanisasi di satu pihak, dan identifikasi yang mengokohkan kebakuan dan menghadirkan elemen-elemen kebudayaan sisa alias residual culture pada pihak lain, yang keduanya mengandalkan justifikasi otentisitas dan esensi. Ketika sebuah kekuatan tertentu, adat misalnya, merasa ‘terancam’ oleh kehadiran suatu kekuatan lain, negara misalnya, maka baik klaim kebenaran maupun identifikasi sebagai ‘yang asli’ dan ‘yang sejati’ segera tampil dan saling menguatkan diri.

Persoalannya, selain akan melambungkan fantasi tentang masa depan dan romantisme masa lalu yang sepenuhnya imajiner, konstruktif, bahkan spekulatif, kedua kecenderungan itu menutup rapat kemungkinan artikulasi individu sebagai subjek kebudayaan. Ini karena klaim kebenaran maupun identifikasi selalu menagih manifestasi kebersamaan, solidaritas dengan seluruh label kategorisnya. Individu sebagai subjek kebudayaan, dalam konteks ini, bukan saja telah kehilangan kemerdekaan untuk menentukan strategi keberlangsungan hidupnya (survival strategic) lantaran terperangkap dalam keharusan kolektivitas, tapi juga sekaligus terepresi oleh kategori yang mungkin dirakitnya sendiri.

TANKINAYA, yang menaruh perhatian lebih pada pengajian dan aksi kebudayaan sebagai dua sisi mata uang, memandang pentingnya fleksibilitas atau dinamisasi sikap dan pendekatan dalam konteks keilmuan maupun aksi-aksi pendampingan sesuai konteks realitas yang berkembang dengan mendasarkan pada titik terpenting: humanistis.

Bagaimana pun, bagi TANKINAYA, kebudayaan adalah human social life yang terbentuk dan berkembang melalui proses interaksi sosial untuk keberlangsungan kehidupan personal dan kelompok pemilik kebudayaan, dan dalam proses itu peranperan individu dan kelompok berjalan seiring, seimbang, dan saling melengkapi. Catatan kisah hidup (lifestory) dari riset-riset etnografi menunjukkan betapa demikian besar kemampuan dan peran individu dan komunitas dalam menata kehidupan bersama yang humanistis. Dan peran-peran itu tampak jelas dalam membangun, melakukan, dan mengembangkan berbagai siasat, negosiasi, strategi, dan upaya penataan-ulang (reforming) dalam konteks ekologi dan sosial yang lebih luas. Dengan kata lain, kiprah dalam kebudayaan adalah aktivitas kemanusiaan yang berpijak dari pandangan utama manusia sebagai subjek kebudayaan.

Perhatian dan pandangan tersebut mendorong TANKINAYA untuk melakukan secara intensif penelitian etnografi dan kebijakan strategis; pengembangan komunitas melalui dialog rekonsiliatif dan pendidikan kritis, advokasi atau pendampingan; dan komunikasi media dalam berbagai bentuk seperti jurnal, majalah, buku, website, dan tayangan gambar. TANKINAYA memandang penting melakukan sinergi aktivitas keilmuan dan aksi-aksi kebudayaan: riset kebudayaan yang empati-manusiawi dan aksi kebudayaan yang berbasis pengetahuan. Keduanya diharapkan dapat menyongsong kebudayaan sebagai human social life, tata hidup dan kehidupan yang lebih manusiawi dan beradab.

 

VISI DAN MISI

Visi

Mengembangkan proses kebudayaan sebagai human social life dengan mengakui sepenuhnya peran dinamis tiap individu dan komunitas dalam menata dan menata-ulang dunia personal maupun sosial demi terwujudnya tata kehidupan yang manusiawi.

Misi

  1. Menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman dan pemaknaan baru tentang kebudayaan sebagai proses pergulatan manusia dan kemanusiaan melalui riset etnografis, arkeologi pengetahuan, dan kebijakan strategis.
  2. Mengembangkan dialog antar komunitas dan subkultur untuk meretas kebekuan interaksi agar menjadi kreatif-dinamis demi hidup bersama dengan tetap pada kesadaran akan perbedaan.
  3. Mendampingi komunitas akar rumput untuk secara sadar dan kreatif menggerakkan segenap potensi yang dimiliki dalam mengakses setiap proses kebudayaan yang berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi, dan politik mereka.
  4. Melalui berbagai forum dan media, membangun kesadaran publik mengenai gerak kebudayaan masyarakat kita dan kemungkinannya di masa mendatang.
  5. Memengaruhi kebijakan-kebijakan publik dalam rangka membangun politik kebudayaan yang bertolak pada manusia dan kemanusiaan.

 


TANKINAYA INSTITUTE
Jalan Madrasah No. 66 Kukusan, Beji, Depok 16425 Indonesia
Telp.: 021-7867145, Fax.: 021-7867145, Email: office@tankinaya.org

Hak Cipta © 2009 Tankinaya Institute